PURNA BAKTI BUKAN AKHIR PENGABDIAN, MUHSIN ABDULLAH TETAP ‘MENYALA’ DI TENGAH MASYARAKAT

OGAN ILIR – Purna bakti sering kali dipandang sebagai garis akhir dari perjalanan seorang birokrat. Namun, bagi Dr. H. Muhsin Abdullah, ST., MM., MT., masa pensiun justru menjadi pintu untuk melanjutkan pengabdian melalui jalur yang berbeda.

Tak lagi duduk dalam struktur Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir, Muhsin Abdullah memilih tetap bergerak. Ia masih aktif dalam berbagai organisasi, terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, serta mengambil peran di sejumlah wadah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa pengabdian tidak semestinya berhenti hanya karena jabatan berakhir. Sebab, jabatan adalah amanah yang memiliki batas waktu, sementara pengalaman, pengetahuan, jaringan dan kepedulian terhadap masyarakat dapat terus digunakan jauh setelah seseorang meninggalkan ruang birokrasi.

Alih-alih benar-benar menarik diri dari aktivitas publik, Muhsin Abdullah justru tercatat aktif di sejumlah organisasi. Di antaranya sebagai Dewan Pembina DPD PGK Ogan Ilir (Perkumpulan Gerakan Kebangsaan), Ketua LT-NU Sumatera Selatan, Pengurus MUI Sumatera Selatan, Mutasyar NU Kabupaten Ogan Ilir, Ketua PERHIPTANI Kabupaten Ogan Ilir, Pembina KOMPOI (Komunitas Pensiunan Ogan Ilir), Ketua IMI Kabupaten Ogan Ilir, serta Dewan Pembina IKAPISTA Provinsi Sumatera Selatan.

Kiprahnya di DPD PGK Ogan Ilir juga menjadi salah satu bentuk keterlibatannya dalam ruang kepemudaan. Organisasi tersebut banyak diisi mahasiswa, aktivis dan generasi muda. Di tengah dinamika anak muda yang membutuhkan pengalaman, arah dan ruang untuk menyampaikan gagasan, kehadiran seorang tokoh senior dapat menjadi bagian dari proses pertukaran pengalaman lintas generasi.

Di sinilah makna purna bakti menjadi lebih luas. Pensiun dari jabatan bukan berarti pensiun dari kepedulian. Ketika jabatan birokrasi telah selesai, masih ada ruang lain untuk berkontribusi—melalui organisasi, kegiatan sosial, pembinaan generasi muda, maupun aktivitas kemasyarakatan.

Terlebih, daerah seperti Ogan Ilir tidak hanya membutuhkan pembangunan secara fisik, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang bersedia terus terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat. Pengalaman para mantan birokrat dan tokoh masyarakat dapat menjadi sumber gagasan, selama pengalaman tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi kontribusi nyata.

Muhsin Abdullah sendiri kini berada pada fase kehidupan yang berbeda. Tidak lagi memiliki kewenangan formal seperti ketika berada dalam pemerintahan, tetapi masih memiliki kesempatan untuk memberikan pemikiran dan pengalaman melalui organisasi yang ia ikuti.

Inilah pesan penting dari sebuah purna bakti: yang selesai adalah masa jabatan, bukan pengabdian.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya mengingat seseorang karena pernah menduduki sebuah jabatan. Lebih dari itu, masyarakat akan melihat apa yang dilakukan setelah jabatan tersebut berakhir.

Purna bakti boleh datang. Jabatan boleh selesai. Tetapi semangat untuk berbuat bagi masyarakat dan Ogan Ilir tidak harus ikut pensiun. (BN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page