PALEMBANG – Ajang yang seharusnya menjadi panggung prestasi, Kejuaraan Karate Liga Pelajar Ke-1 Piala Walikota Palembang, berubah menjadi panggung sandiwara yang memuakkan. Digelar di kawasan samping Kantor Camat Kamboja, Sabtu (7/2), kompetisi ini menuai protes keras dan nyaris ricuh akibat dugaan pengelolaan dana yang tidak transparan serta fasilitas yang dianggap tidak manusiawi.
Pungutan Selangit, Pelayanan Pahit
Dengan biaya pendaftaran mencapai Rp 300.000 per peserta, ditambah biaya coach sebesar Rp 30.000, panitia disinyalir meraup dana ratusan juta rupiah dari ribuan peserta yang membludak. Namun, fakta di lapangan berbanding terbalik dengan nilai rupiah yang disetorkan.
“Sudahlah mahal, fasilitas tidak memadai! Tenaga medis tidak ada, ambulans nihil. Piagam cuma kertas biasa dan medali alakadarnya. Terus uang Rp 300 ribu dikali seribu lebih peserta itu dikemanain?” teriak salah satu orang tua peserta dengan nada tinggi di lokasi pertandingan.
Anak-Anak Jadi Korban: Kelelahan dan Nyaris Pingsan
Kondisi arena yang pengap dan tidak kondusif membuat suasana mencekam. Banyak atlet cilik yang mengalami kelelahan ekstrem hingga nyaris pingsan. Ironisnya, saat kondisi darurat terjadi, kesiapan tim medis yang seharusnya menjadi standar utama olahraga kontak fisik (beladiri) justru dipertanyakan.
ES, salah satu orang tua peserta, tak mampu membendung kemarahannya melihat sang buah hati tumbang akibat lingkungan pertandingan yang buruk.
“Anak saya jadi korban, hampir pingsan karena kondisi lapangan tidak layak! Kami sudah bayar, tapi fasilitas nol besar. Ini pelanggaran berat! Kami minta Bapak Ratu Dewa segera turun tangan menyikapi oknum panitia seperti ini,” tegas ES berapi-api.
Tuntutan Audit dan Sorotan untuk Ratu Dewa
Banyak orang tua yang akhirnya memilih menarik mundur (WO) anaknya demi keselamatan nyawa, meski uang pendaftaran hangus. Kekecewaan ini memicu tuntutan agar pihak berwenang segera melakukan audit total terhadap panitia penyelenggara.
Publik kini menunggu keberanian Walikota Palembang, Ratu Dewa, untuk menindak tegas oknum-oknum yang diduga menjadikan nama “Piala Walikota” sebagai kedok untuk meraup keuntungan pribadi di atas penderitaan atlet pelajar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia penyelenggara masih bungkam seribu bahasa dan belum memberikan klarifikasi resmi terkait ke mana aliran dana pendaftaran yang fantastis tersebut serta mengapa fasilitas keselamatan atlet begitu diabaikan.(MK)









