LAHAT, 28/12/2025 – Pemandangan memilukan sekaligus memuakkan kini tersaji di ikon kebanggaan masyarakat Kabupaten Lahat, Bukit Selero atau yang lebih dikenal sebagai Gunung Jempol. Kaki gunung yang seharusnya menjadi benteng hijau pelindung ekosistem, kini nampak “botak” dan bopeng akibat aktivitas pengerukan batu bara yang ugal-ugalan.
Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan yang kontras dan menyakitkan mata: di bawah gagahnya puncak jempol, deretan alat berat dan truk raksasa hilir mudik tanpa henti menguras isi bumi. Hutan yang dulu rimbun berganti menjadi lubang-lubang menganga yang siap mengundang bencana ekologis bagi warga sekitar.
Pemerintah Dinilai “Tutup Mata dan Telinga”
Ketidakberdayaan atau dugaan pembiaran oleh Pemerintah Kabupaten Lahat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memicu kemarahan hebat di tengah masyarakat. Publik menilai para pemangku kebijakan seolah “mati rasa” terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di depan mata.
Masyarakat kini melayangkan desakan keras kepada Pemerintah Pusat untuk segera turun tangan. “Kami minta Pemerintah Pusat segera hentikan penambangan di kaki Gunung Jempol! Jangan tunggu longsor atau banjir bandang menyapu kami baru kalian bangun,” tegas seorang warga setempat dengan nada geram.
Tak hanya penghentian operasi, warga juga menuntut pengusutan tuntas terhadap oknum pemberi izin dan mendesak penangkapan terhadap pimpinan PT perusak alam yang bertanggung jawab atas kehancuran ini.
Netizen “Ngamuk”: Singgung Keserakahan Penguasa
Jagat maya pun ikut meledak. Komentar pedas netizen membanjiri platform media sosial, menyoroti integritas para pemimpin daerah yang dianggap lebih mementingkan kocek pribadi dan pengusaha daripada keselamatan rakyat.
“Keserakahan wakil gubernur sama bupati Lahat ini keterlaluan, lama-lama bisa jebol itu lautan kalau dikeruk terus!” tulis salah satu netizen dengan emosi.
Netizen lain berkomentar tak kalah sengit: “Gak sekalian saja Gunung Jempolnya dikeruk juga? Kepalang pemerintah mau melihat Kabupaten Lahat hancur lebur akibat keserakahan pemerintah kabupaten dan provinsi Sumsel!”
Bahkan, ungkapan keprihatinan mendalam mengalir deras: “Ini bukti keserakahan dan kerakusannya manusia. Nauzubillahiminzalik, demi cuan apapun dilakukan tanpa memikirkan anak cucu nanti.”
Menanti Ketegasan Hukum
Kini, bola panas berada di tangan kementerian terkait dan aparat penegak hukum. Jika aktivitas ini terus dibiarkan, Gunung Jempol yang merupakan identitas geografis dan budaya Lahat hanya akan tinggal sejarah, terkubur di bawah tumpukan kerakusan korporasi.
Publik menanti: Apakah hukum akan tegak memihak alam, atau tetap bersujud di bawah kaki para “Raja Tambang”?(Red)






