MUSI BANYUASIN – Bumi Serasan Sekate kembali bergejolak. Tragedi ledakan hebat di sumur minyak ilegal kawasan Macang Sakti, Kecamatan Sanga Desa, Jumat lalu, bukan sekadar insiden teknis biasa. Ini adalah tamparan keras bagi penegakan hukum sekaligus bukti nyata bahwa praktik illegal drilling dan illegal refinery di wilayah ini telah mencapai level yang mengkhawatirkan: tak tersentuh dan mematikan.
Kontradiksi Memalukan: Polsek Sebut Nihil, Polda Benarkan Ledakan Skandal informasi menyeruak di balik kepulan asap hitam Macang Sakti. Publik dibuat geram oleh respons yang bertolak belakang dari institusi kepolisian. Saat dikonfirmasi awak media, pihak Polsek Sanga Desa seolah “tutup mata” dengan menyebut kondisi di lapangan “nihil”. Ironisnya, klaim tersebut dipatahkan langsung oleh jajaran Polda Sumsel yang secara tegas membenarkan terjadinya kebakaran hebat di titik sumur ilegal tersebut.
Perbedaan pernyataan ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat. Apakah ada upaya menutup-nutupi fakta? Atau memang pengawasan di tingkat bawah sudah sedemikian tumpulnya hingga ledakan sebesar itu luput dari pantauan?
Sanga Desa dalam Kepungan Kilang Maut Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan yang mengerikan. Di tengah perkebunan dan dekat pemukiman warga, aktivitas illegal refinery (penyulingan ilegal) tumbuh subur bagai jamur di musim hujan. Tungku-tungku penyulingan rakitan dan drum penampungan minyak mentah beroperasi tanpa standar keselamatan sedikit pun.
Masyarakat kini hidup di bawah bayang-bayang maut. Sanga Desa layaknya “bom waktu” yang siap meledak kapan saja. Jika ledakan di Macang Sakti belum cukup untuk memicu penertiban total, bencana seperti apa lagi yang harus ditunggu hingga jatuh korban jiwa massal?
Lingkungan Hancur, Hukum Mandul? Dampak dari pembiaran ini sangat nyata. Tanah dan sumber air warga tercemar tumpahan minyak mentah, sementara asap beracun dari pembakaran tradisional mengancam paru-paru generasi mendatang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada sosok “aktor intelektual” atau pemilik modal besar di balik jaringan illegal refinery ini yang terseret ke meja hijau. Penindakan yang selama ini dilakukan dinilai publik hanya bersifat seremonial dan “tebang pilih”.
Desakan Penertiban Tanpa Kompromi Publik kini mendesak adanya evaluasi total terhadap kinerja aparat di wilayah Sanga Desa. Masyarakat tidak butuh sekadar kata-kata prihatin; yang dibutuhkan adalah langkah konkret:
1. Penertiban Total: Ratakan seluruh tungku penyulingan ilegal tanpa terkecuali.
2. Transparansi Hukum: Usut tuntas pemilik sumur dan jaringan distribusinya.
3. Audit Kinerja: Evaluasi aparat wilayah yang gagal (atau sengaja gagal) mendeteksi aktivitas ilegal di depan mata mereka.
Tragedi Macang Sakti adalah alarm terakhir. Jangan sampai kepercayaan publik benar-benar hangus bersama ledakan-ledakan berikutnya yang hanya tinggal menunggu waktu.(MK)












