“Maret Harga Mati!” PGK OI Ultimatum PT SPF: Hentikan Polusi atau Hadapi Amuk Aksi Jilid II!

OGAN ILIR – Kesabaran warga Kelurahan Timbangan, Kecamatan Indralaya Utara, berada di titik nadir. Janji-janji manis PT Sumatera Prima Fibreboard (SPF) terkait penanganan limbah debu dan bau busuk kini ditagih dengan nada tinggi. Jika hingga Maret 2026 udara Ogan Ilir masih “beracun”, gelombang massa dipastikan bakal kembali mengepung pabrik tersebut.

Dalam forum diskusi panas yang digelar Kamis (29/1), Dewan Pengurus Daerah Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPD PGK) Ogan Ilir bersama warga RT 05 Lingkungan III melabrak manajemen PT SPF. Pertemuan ini merupakan babak lanjutan dari amarah warga yang sudah muak menghirup debu dan aroma tak sedap yang diduga kuat bersumber dari aktivitas produksi perusahaan.

Janji Teknologi “Sakti” 93 Persen

Manajer Produksi PT SPF, Agung Budiyono, mencoba meredam tensi dengan mengklaim bahwa perusahaan tengah membangun proyek teknologi canggih untuk mengatasi polusi. Katanya, progres sudah menyentuh 93 persen dan siap beroperasi Maret mendatang.

Namun, warga tidak lantas percaya. Pasalnya, “nyanyian” soal perbaikan lingkungan ini sudah lagu lama, sementara napas warga kian sesak oleh debu yang tak kunjung hilang.

Ultimatum Keras PGK OI

Ketua DPD PGK Ogan Ilir, Dwi Surya Mandala, S.E., menegaskan pihaknya tidak butuh retorika. Ia memasang badan untuk masyarakat dengan memberikan ultimatum terbuka.

“Hasil forum ini masih sebatas komitmen di atas kertas. Kami tunggu bukti Maret nanti! Jika debu dan bau masih meneror warga, jangan salahkan kami jika aksi jilid II dan gerakan yang lebih besar melumpuhkan aktivitas Anda,” tegas Dwi dengan nada sengit.

Dwi juga menyoroti rencana pemeriksaan kesehatan gratis yang dijanjikan perwakilan manajemen Jakarta, Dr. Yayan Hadiyat. Ia mendesak agar perusahaan tidak main-main dan wajib menghadirkan dokter spesialis, bukan sekadar pemeriksaan formalitas.

Warga: “Jangan Tunggu Ada Mayat!”

Minimnya empati perusahaan juga dibongkar warga. Selama bertahun-tahun terdampak, manajemen PT SPF disebut hampir tidak pernah menginjakkan kaki di pemukiman untuk mendengar rintihan masyarakat.

“Jangan tunggu ada korban jiwa baru mau cek kesehatan! Kami butuh aksi nyata sekarang, bukan nanti-nanti,” cetus salah satu warga di tengah forum yang dikawal ketat aparat kepolisian tersebut.

Kini, bola panas ada di tangan PT SPF. Bulan Maret 2026 akan menjadi pembuktian: apakah teknologi “sakti” mereka mampu membersihkan udara Timbangan, atau justru menjadi pemicu ledakan konflik sosial yang lebih besar di Bumi Caram Seguguk.(BN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *