PALEMBANG – Di bawah langit Sako yang menyimpan sunyi, sebuah peringatan ruhani yang menggetarkan disuarakan dari Majelis Besar Jaya Sempurna. Guru Besar Singo Mataram membedah realitas pahit bangsa dalam sebuah dialog yang melampaui batas retorika bahwa manusia modern tengah terjebak dalam “kerumunan identitas” yang riuh, namun tercerabut dari “inti keselamatan” yang hakiki (22 April 2026).
Dalam paparannya jam 08.00 Wib pagi, beliau menekankan bahwa masyarakat saat ini cenderung terjebak pada pengakuan formal semata, yang pada akhirnya melahirkan semerawutnya akidah dan kesombongan spiritual yang semu.
“Masyarakat hari ini fasih bersuara tentang Tuhan, namun asing dalam perjumpaan dengan-Nya dan sering kali terlupakan antara menjadi seorang Muslim dan mencapai derajat Islam,” ungkap Guru Besar Singo Mataram dengan nada yang dalam dan berwibawa.
Dalam bedah makrifatnya, beliau memberikan distingsi tajam yang meruntuhkan pemahaman awam mengenai status keberagamaan.Muslim Adalah status formal manusia sebagai penduduk bumi yang menyatakan diri sebagai pengikut jalan Nabi Muhammad SAW.Sedangkan islam (Selamat) Adalah sebuah maqam atau pencapaian ruhani di mana jiwa telah “bermukim” di dalam kedamaian surga.
“Beliau menegaskan dengan lantang bahwa surga bukanlah komoditas yang bisa ditebus dengan label atau klaim golongan. Surga adalah buah dari Ma’rifat—pengenalan yang intim dan utuh kepada Sang Pemilik Kerajaan Langit,” tegas beliau di hadapan para jamaah.
Pesan tajam di lontarkan pada fenomena orang-orang yang merasa mampu menempuh jalan ketuhanan yang pelik sendirian. Beliau mengingatkan bahwa surga adalah hasil dari pendakian ruhani yang membutuhkan bimbingan nyata.
Pertemuan ini menekankan pentingnya Washilah perantara cahaya melalui sosok Guru Mursyid. Guru Besar Singo Mataram menjelaskan bahwa peran seorang Mursyid melampaui sekadar pengajar literasi agama yang tidak hanya mengajarkan huruf atau teks, tetapi menuntun tangan jiwa langsung ke hadirat Sang Khalik.
Sesuai dengan firman Tuhan dalam Surah Al-‘Insān: 29 “Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.”
Tanpa bimbingan yang tepat dari mereka yang telah mengenal Sang Pemilik Surga, agama dikhawatirkan hanya akan bergeser menjadi identitas politik dan sosial, alih-alih menjadi alat transformasi jiwa yang hakiki. Menjadi penduduk surga membutuhkan peta jalan yang jelas, dan pencarian terhadap bimbingan spiritual yang otentik kini menjadi sebuah keniscayaan yang mendesak, tegas guru besar Singo Mataram.(Red)












