OGAN ILIR – Harapan warga miskin di Desa Arisan Jaya, Kampung 1, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir untuk memiliki hunian layak mendadak sirna. Program rehabilitasi rumah yang digadang-gadang menjadi solusi pengentasan kemiskinan justru menyisakan pilu. Tiga unit rumah warga penerima manfaat hingga kini telantar dalam kondisi mengenaskan: bolong tanpa pintu, tanpa jendela, dan dibiarkan terpelangap begitu saja.
Kondisi Rumah Mirip Sengat Tanpa Dinding
Hasil investigasi langsung di lapangan menunjukkan kondisi rumah yang jauh dari kata layak. Salah satunya adalah kediaman Jakfar. Rumah tersebut terbengkalai tanpa akses pengamanan dasar. Jangankan dinding yang kokoh, area lantai pun terpaksa ditutupi seng bekas karena kekurangan material papan.
Romlah, istri Jakfar, tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya saat dikonfirmasi media. Ia mengeluhkan minimnya anggaran yang membuat proses pengerjaan terhenti total. Akibat rumahnya yang “ompong” dan tidak bisa ditempati, Romlah dan keluarganya kini terpaksa menumpang tidur di rumah kerabat.
Rincian Material yang Diduga Minim
Menurut pengakuan Romlah, bantuan dari pemerintah yang mereka terima bukan berbentuk uang tunai, melainkan paket material dengan rincian:
Papan: 1 kubik
Seng: 36 keping
Tiang: 13 batang
Sento: 70 batang
Paku: 10 kilogram
Jumlah material tersebut dinilai sangat tidak mencukupi untuk membangun satu unit rumah yang utuh dan aman.
Kades Bungkam Soal Anggaran, Lembaga Swadaya Desak Bupati
Kepala Desa Arisan Jaya saat dikonfirmasi oleh Lembaga LIPER RI membenarkan adanya proyek bantuan tersebut. Namun, sang kades berdalih bahwa program ini bukanlah bantuan pembangunan per unit utuh, melainkan pengerjaan swadaya yang mengandalkan gotong royong warga setempat.
Kejanggalan mulai mencuat saat Ketua LIPER RI dan LIPERNAS PD Kabupaten Muara Enim mempertanyakan asal-usul sumber dana serta total anggaran nominal yang dialokasikan untuk setiap warga. Mendengar pertanyaan sensitif tersebut, Kepala Desa memilih bungkam dan menolak memberikan penjelasan.
Merespons bungkamnya pihak desa, LIPER RI dan LIPERNAS PD Muara Enim meminta aparat penegak hukum serta Bupati Ogan Ilir untuk segera turun ke lapangan. Mereka mendesak dilakukan audit dan kroscek langsung atas proyek yang dinilai janggal, tidak transparan, dan mengorbankan hak masyarakat miskin ini. (Red)











