Palembang, 27-11-2025 – Situasi keamanan di Palembang dilaporkan memasuki fase mengkhawatirkan menyusul serangkaian aksi premanisme brutal yang terjadi dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Tiga insiden signifikan yang merenggut korban jiwa dan luka-luka telah memicu keresahan luas di masyarakat, mendesak aparat kepolisian untuk segera mengambil langkah konkret dan masif.
Kejadian pertama yang mengejutkan publik adalah insiden pengeroyokan terhadap seorang anggota TNI oleh puluhan gerombolan preman di kawasan Pasar Induk. Aksi anarkis ini menunjukkan betapa beraninya para pelaku dalam melancarkan aksinya di tempat keramaian.
Tak berselang lama, kengerian kembali terjadi di kawasan Macan Lindungan. Aksi penusukan yang dilakukan oleh seorang preman menyebabkan seorang sopir tewas di tempat kejadian.
Puncak kekhawatiran terjadi pada insiden terbaru di kawasan 15 Ilir, di mana aksi perampokan brutal menyebabkan satu korban jiwa meninggal dunia dan satu korban lainnya dalam kondisi kritis.
Menyikapi eskalasi kekerasan ini, Ketua GPP Sumsel M. Khaliq angkat bicara dan mendesak jajaran Polda Sumsel serta Polrestabes Palembang untuk segera bertindak tegas.
“Palembang sudah darurat preman. Kami mendesak agar Polda Sumsel dan Polrestabes Palembang melakukan penyisiran preman setiap hari secara rutin dan mendirikan pos pengamanan di titik-titik rawan premanisme,” tegas Khaliq.
Beberapa lokasi yang diidentifikasi Khaliq sebagai titik rawan yang memerlukan pengamanan ekstra meliputi Macan Lindungan, kawasan wisata Benteng Kuto Besak (BKB), dan Pasar 16 Ilir yang merupakan pusat keramaian dan niaga.
Selain menuntut tindakan represif dari aparat, M. Khaliq juga menyerukan agar seluruh elemen masyarakat bersatu. Ia mengajak para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menyuarakan dan mengampanyekan “Palembang Steril Preman”, menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi seluruh warga.(Red)






