BANYUASIN – Dunia pendidikan Sumatera Selatan diguncang isu memuakkan. Edi Candra, Kepala Sekolah SMPN 5 Banyuasin, kini menjadi sorotan tajam setelah diduga melakukan penganiayaan brutal terhadap Mustar, seorang aktivis LSM. Bukannya menjadi teladan moral, sang Kepsek justru dituding mempertontonkan aksi premanisme yang tak hanya melukai fisik, tapi juga mencoreng martabat instansi pendidikan.
“Besi di Bawah Meja”: Serangan Terencana?
Ketua LSM Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GRANSI), Supriyadi, meledak dalam amarah saat memberikan keterangan kepada media. Ia mengungkap fakta mengerikan: kekerasan ini diduga bukan spontanitas emosi, melainkan aksi berdarah yang direncanakan.
“Ada besi yang sudah disiapkan di bawah meja kerja. Ini bukan lagi soal emosi, ini niat jahat! Sangat memalukan, seorang pejabat publik bertindak layaknya preman pasar. Di mana nilai kemanusiaannya?” tegas Supriyadi dengan nada tinggi.
Pejabat Banyuasin “Buta dan Tuli”?
Kritik pedas juga menghujam Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Hingga detik ini, baik Pj Bupati maupun Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin dinilai menunjukkan sikap dingin dan apatis. Tidak ada empati, apalagi kunjungan untuk melihat kondisi korban yang merupakan warga mereka sendiri.
“Pemerintah seolah menutup mata. Apakah suara kritis aktivis sengaja ingin dibungkam dengan cara membiarkan kekerasan seperti ini berlalu tanpa atensi? Diamnya pejabat adalah bentuk pengkhianatan terhadap rasa keadilan masyarakat,” cecar Supriyadi.
Polsek Mariana Digoyang Isu Lamban, Ada Apa?
Tak hanya pemerintah, aparat penegak hukum di Polsek Mariana pun kena “semprot”. Supriyadi mencium aroma kejanggalan dalam penanganan kasus ini. Meski status tersangka sudah disematkan pada Edi Candra, hingga kini sang Kepsek masih bisa menghirup udara bebas tanpa penahanan.
“Proses visum lambat, penyidikan merayap, dan tersangka tidak ditahan. Ini ada apa? Jangan sampai publik berasumsi ada ‘main mata’ di balik jeruji Polsek Mariana. Jika Kapolsek tidak berani bertindak tegas, lebih baik mundur atau dicopot!” pungkasnya.
Selasa Membara: 50 Aktivis Siap ‘Kepung’ Polda Sumsel
Gerah dengan kelambanan hukum dan sikap abai pemerintah, sekitar 50 aktivis dari berbagai elemen LSM, media, dan ormas di Sumatera Selatan dipastikan akan turun ke jalan.
Pada Selasa, 17 Maret 2026, massa akan menggeruduk Mapolda Sumsel dengan tuntutan tunggal: Desak Kapolda Sumsel untuk segera memerintahkan penahanan Edi Candra dan evaluasi total penyidik Polsek Mariana.
“Kami tidak akan tinggal diam. Jika premanisme berbaju dinas ini dibiarkan, maka hukum di Sumsel sudah mati,” tutup Supriyadi dengan tegas.(Red)











