Siapa Reno & Abu? Dua Sosok yang Diduga Berhasil “Membungkam” Hukum di Polres Ogan Ilir.
OGAN ILIR – Martabat hukum di wilayah hukum Polres Ogan Ilir berada di titik nadir. Sikap tutup mulut yang diperlihatkan Kapolres Ogan Ilir saat dikonfirmasi mengenai aktivitas gudang BBM ilegal milik bos berinisial Abu, seolah mengonfirmasi bahwa mafia minyak jauh lebih berkuasa ketimbang wibawa seragam cokelat.
Investigasi terbaru mengungkap fakta yang lebih mengejutkan. Di lokasi yang sama—tepatnya di belakang Rumah Makan Tuah Siang Malam—praktik haram tersebut ternyata berlipat ganda. Tak hanya menjadi sarang BBM ilegal, tempat itu juga beralih fungsi menjadi gudang CPO (Crude Palm Oil) ilegal.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa pemilik asli bisnis “gurita” ini diduga kuat adalah pria berinisial Reno, sementara Abu dipercaya sebagai operator lapangan untuk mengurus kedua aktivitas ilegal tersebut di satu lokasi yang sama.
Ke Mana Intelijen? Mustahil Polisi “Buta” dan “Tuli”!
Keberadaan dua aktivitas ilegal berskala besar di jalur poros utama ini memicu tanda tanya besar bagi publik. Ke mana pihak kepolisian? Ke mana fungsi Intelijen Polres Ogan Ilir yang seharusnya menjadi mata dan telinga hukum?
Sangat tidak masuk akal jika gudang dengan aktivitas vulgar—mobil tangki putih-biru yang bebas keluar masuk—luput dari radar patroli selama tiga bulan penuh. Muncul dugaan liar di tengah masyarakat: Apakah aparat memang tidak tahu, atau pura-pura buta karena sudah menerima “koordinasi” alias uang tutup mulut dari pihak Reno?
“Ini bukan lagi soal kecolongan, tapi patut diduga sebagai pembiaran yang terstruktur. Jika Kapolres tidak berani bicara, apalagi bertindak, maka wajar jika rakyat bertanya: Polres Ogan Ilir ini bekerja untuk siapa? Untuk masyarakat atau untuk melindungi kantong mafia?” tegas seorang aktivis hukum yang memantau kasus ini.
Diamnya Polisi: Sinyal Pembiaran atau “Main Mata”?
Sikap bungkam seribu bahasa yang ditunjukkan pucuk pimpinan Polres Ogan Ilir saat dikonfirmasi awak media semakin memperkeruh suasana. Diamnya otoritas keamanan ini dianggap sebagai sinyalemen bahwa hukum di Ogan Ilir bisa “dikompromikan”.
Gudang milik Reno yang dikelola Abu ini bukan sekadar pelanggaran regulasi, melainkan “bom waktu” yang mengancam nyawa warga sekitar. Risiko kebakaran dan ledakan hebat dari timbunan BBM serta limbah CPO ilegal mengintai setiap detik, namun keselamatan rakyat seolah menjadi tumbal demi kelancaran bisnis gelap sang mafia.
Pagar tinggi yang menutupi gudang tersebut bukan sekadar pembatas fisik, melainkan simbol perlawanan terhadap transparansi hukum. Ironisnya, barikade tersebut seolah tak tersentuh oleh tangan hukum yang biasanya begitu tajam dan garang terhadap rakyat kecil.
Desakan Copot Kapolres: Kapolda Sumsel Harus Turun Tangan!
Masyarakat kini sudah jenuh dengan retorika kosong. Harapan kini tertuju sepenuhnya kepada Kapolda Sumatera Selatan untuk mengambil tindakan tegas dan mengambil alih komando di wilayah hukum Ogan Ilir.
“Jika Polres Ogan Ilir sudah mandul dan Kapolresnya memilih bungkam saat dikonfirmasi, maka Kapolda Sumsel harus segera turun tangan. Jangan tunggu sampai terjadi ledakan hebat baru bertindak. Bersihkan Ogan Ilir dari mafia minyak dan copot oknum yang diduga menjadi tameng mereka!” teriak massa dalam diskusi panas di media sosial.
Hingga berita ini diterbitkan, konfirmasi yang dilayangkan awak media kepada Kapolres Ogan Ilir tetap tidak mendapatkan respon satu patah kata pun. Bungkamnya pihak kepolisian menjadi catatan hitam dalam upaya pemberantasan illegal drilling dan penimbunan BBM di Bumi Caram Seguguk.
Publik kini menunggu: Berani tangkap Reno dan Abu, atau memang Polres Ogan Ilir sudah benar-benar tak berdaya di bawah ketiak mafia?






