Guru Besar Armantika Bongkar Fenomena Kesalehan Palsu: Alim di Dunia, Ingkar Pertemuan dengan Allah

Palembang – Guru Besar Makrifat Jaya Sempurna, Armantika, menyampaikan kritik teologis yang sangat mendalam dan tajam terkait arah pergerakan spiritual masyarakat modern saat ini. Beliau mengingatkan bahwa maraknya majelis pengajian hari ini bukan jaminan tegaknya kebenaran hakiki. Banyak wadah spiritual yang mengklaim diri paling benar, namun secara esensi belum tentu berada di jalan yang lurus.

Menurut Armantika, umat saat ini dihadapkan pada krisis spiritual yang akut. Menemukan seorang guru sejati yang membawa estafet keilmuan murni para nabi dan rasul kini menjadi perkara yang sangat sulit.

Kritik Tajam atas Doktrin “Keji Terhadap Diri”

Dalam wejangannya, Armantika menyoroti paradoks moral yang sering terjadi di mimbar-mimbar agama. Fenomena umum saat ini memperlihatkan banyaknya pengajar yang sangat gencar memerintahkan perbuatan baik secara sosial di dunia, namun di sisi lain, doktrin mereka justru membuat manusia berbuat keji terhadap diri mereka sendiri.

“Hal ini sangat bertentangan dengan petunjuk Allah,” tegas Armantika. Beliau mengingatkan kembali esensi ibadah dalam Islam, di mana shalat seharusnya berfungsi mutlak sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar. Jika ritual fisik tidak mampu mengubah hakikat batin, maka ada yang salah dalam proses bermakrifat.

Terlihat Alim di Dunia, Ingkar Pertemuan dengan Allah

Lebih lanjut, Armantika membongkar kepalsuan dari kesalehan yang hanya berorientasi pada pandangan manusia. Banyak figur yang tampak alim dan suci di mata dunia, namun ruhaninya justru ingkar atas hakikat pertemuan dengan Allah SWT.

Beliau memberikan peringatan keras bahwa rekayasa kesalehan mungkin bisa menyelamatkan seseorang dari hukuman atau azab duniawi. Namun, tidak ada satu pun manusia yang bisa lari dari kepastian siksa api neraka akibat menzalimi ruhaninya sendiri.

Sebagai penutup yang menggetarkan ego insani, Armantika mengutip dalil telak dari Al-Qur’an Surat Al-Waqi’ah ayat 87:

“Maka mengapa jika kamu benar, kamu tidak mengembalikan nyawa itu (ke tempatnya jika kamu adalah orang-orang yang benar)?”

Ayat ini dihadirkan sebagai tamparan keras sekaligus pembuktian, bahwa jika manusia tidak mampu menguasai hakikat kehidupan dan kematiannya sendiri, maka segala bentuk kesombongan spiritual di mata dunia menjadi tidak bernilai sama sekali di hadapan Allah. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *