HEADLINE: MEMALUKAN! Misi Kemanusiaan Dicegat Pungli di Palembang, Oknum Dishub Diduga Peras Relawan Bencana Rp 150 Ribu

PALEMBANG – Kota Palembang kembali mencoreng wajahnya sendiri di kancah nasional. Di tengah duka bangsa akibat bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, oknum Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang justru diduga memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi.

Aksi memuakkan ini terjadi di depan Terminal Karya Jaya, Kertapati. Sebuah armada relawan yang mengangkut sembako bantuan dari Provinsi Banten menuju lokasi bencana diduga dicegat dan dimintai uang sebesar Rp 150.000 per mobil oleh oknum petugas Dishub.

Misi Kemanusiaan yang Terluka

Bagaimana mungkin, sebuah kendaraan yang membawa harapan bagi korban bencana alam justru dijadikan sapi perah oleh oknum berseragam? Para relawan yang rela menempuh perjalanan jauh demi misi kemanusiaan ini harus berhadapan dengan mentalitas “premanisme berseragam” yang diduga masih subur di tubuh Dishub Palembang.

Viral dan Panen Hujatan: Walikota Palembang Jadi Sasaran

Video kejadian ini seketika meledak di media sosial dan memancing amarah netizen di seluruh penjuru negeri. Bukannya mendapat pengawalan atau apresiasi, para pejuang kemanusiaan ini justru disambut dengan praktik pungli yang menjijikkan.

Hujatan tidak hanya menyasar oknum di lapangan, namun juga langsung menghantam Walikota Palembang. Netizen menilai pemerintah kota gagal total dalam memberantas pungli yang sudah dianggap sebagai “penyakit kronis” di Palembang.

“Dari Dishub sampai parkir liar di Palembang ini sangat merajalela. Walikota sibuk ngonten pencitraan, kinerjanya jauh dari kata berhasil. Lihat saja, pungli berkembang pesat di Palembang!” tulis salah satu netizen yang geram di kolom komentar.

Bungkam Seribu Bahasa

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi maupun permintaan maaf dari pihak Dishub Kota Palembang maupun Walikota. Kebungkaman ini kian memperpanas situasi, seolah membiarkan citra Kota Palembang terkubur oleh kelakuan memalukan bawahannya.

Masyarakat kini menagih ketegasan. Apakah pelaku akan dipecat secara tidak hormat, ataukah kejadian ini hanya akan berakhir dengan permintaan maaf bermaterai seperti kasus-kasus sebelumnya?

Palembang butuh aksi nyata, bukan sekadar konten di media sosial, sementara pungli merajalela di gerbang kota.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *