EKSKLUSIF: Mahasiswa KKN di OKI Disemprot Warga, Dinilai Cuma ‘Numpang Tidur’ dan Main HP!

KAYUAGUNG – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sejumlah desa dan kelurahan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang seharusnya menjadi lokomotif perubahan, kini justru menuai polemik panas. Alih-alih membawa terobosan, gerombolan kaum intelektual ini dituding minim kontribusi dan tak memiliki etika bermasyarakat.

Sejumlah warga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan, meluapkan kekecewaan mendalam terhadap perilaku para mahasiswa tersebut. Mereka menilai, mahasiswa KKN saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di posko tanpa aktivitas yang jelas.

“Datang ke acara desa cuma formalitas. Bukannya membaur, malah sibuk main handphone masing-masing. Kami bingung, ini mau pengabdian atau cuma pindah tempat main medsos?” ketus salah seorang warga dengan nada kecewa.

Tak hanya soal sikap, transparansi jumlah personel KKN pun dipertanyakan. Informasi awal menyebutkan jumlah mahasiswa mencapai belasan orang, namun yang menampakkan batang hidungnya hanya segelintir. Sebagian besar dituding jarang berada di lokasi KKN dengan berbagai alasan yang tak masuk akal.

PGK OKI Angkat Bicara: “Ini Alarm Keras, Jangan Jadi Mahasiswa Apatis!”

Kondisi memprihatinkan ini memicu reaksi keras dari Ketua DPD Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Kabupaten OKI, Rivaldy Setiawan, SH. Ia menegaskan bahwa kritik pedas masyarakat adalah “alarm” bagi mahasiswa untuk sadar diri.

“Suara masyarakat ini harus dihormati. Ini kritik yang membangun, bukan serangan. Mahasiswa harus kembali memahami esensi pengabdian. Jangan sampai KKN hanya dianggap sebagai beban akademik belaka,” tegas Rivaldy kepada awak media, Senin (26/1/2026).

Rivaldy menyentil keras perilaku mahasiswa yang pasif dan apatis. Menurutnya, jika mahasiswa hanya berdiam diri di posko dan sibuk dengan dunia maya, maka mereka telah gagal menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Mahasiswa itu agent of change dan agent of social empowerment. Kalau hadirnya tidak memberi manfaat dan tidak membaur, tujuan KKN gagal total! Masyarakat itu subjek yang harus dihormati, bukan objek penelitian yang didiamkan,” cetusnya.

Desak Evaluasi Total

Lebih lanjut, Rivaldy meminta pihak universitas dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk tidak menutup mata. Ia mendesak adanya pengawasan ketat dan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja mahasiswa di lapangan.

“Kami mendorong seluruh mahasiswa KKN di OKI untuk segera evaluasi diri. Tingkatkan kehadiran, aktif dalam kegiatan sosial, dan tunjukkan kontribusi nyata. KKN harus kembali pada roh pengabdian dan tanggung jawab moral. Jangan sampai institusi pendidikan membiarkan mahasiswanya tidak menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap ada perubahan signifikan dari para mahasiswa KKN agar keberadaan mereka benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga OKI, bukan sekadar menjadi tamu yang tak tahu adat. (BN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *