OGAN ILIR – Kesabaran masyarakat Indralaya berada di titik nadir. Gelombang protes dan kemarahan publik terhadap kinerja Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Ogan Ilir, Rosita, kini memuncak. Persoalan klasik sapi liar yang menjajah jalan raya utama tak kunjung tuntas. Warga menuding Satpol PP Ogan Ilir mandul dan hanya sibuk bersolek lewat pencitraan seremonial, sementara jalan protokol dibiarkan berubah fungsi menjadi kandang ternak terbuka.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kawanan sapi bebas berkeliaran tanpa pengawasan di jalan lintas provinsi dan pusat kota Indralaya. Keberadaan hewan ternak ini merusak estetika kota dan mengancam keselamatan para pengguna jalan.
“Ini bukan lagi kelalaian biasa, melainkan pembiaran yang nyata. Satpol PP seolah tutup mata dan telinga. Sapi-sapi di sini seperti punya hak istimewa, lebih bebas daripada masyarakat pengguna jalan yang bayar pajak,” ujar seorang warga dengan nada geram, Sabtu (16/5/2026).
Razia Formalitas dan Mandulnya Penegakan Perda
Kepemimpinan Rosita di Satpol PP Ogan Ilir dinilai gagal total dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penertiban Hewan Ternak. Operasi penertiban yang selama ini diklaim telah dilakukan dituding hanya drama formalitas demi menggugurkan kewajiban dokumen dan konsumsi media. Faktanya, beberapa jam setelah petugas pergi, kawanan sapi kembali menguasai median dan bahu jalan.
Kondisi ini memaksa para pengendara motor dan mobil harus bertaruh nyawa. Mereka wajib bermanuver ekstrem demi menghindari tabrakan dengan hewan ternak yang melintas tiba-tiba di tengah jalur cepat.
“Apakah harus menunggu ada korban jiwa yang meregang nyawa dulu baru mereka melek? Jangan hanya duduk di kantor ber-AC dan merasa sudah bekerja. Masyarakat butuh eksekusi riil, bukan sandiwara razia sesaat,” tegas seorang warga lainnya.
Pemerintah Dinilai Kalah dari Pemilik Ternak
Minimnya tindakan tegas memicu spekulasi liar di tengah masyarakat. Publik mulai mempertanyakan keberanian dan integritas aparat penegak Perda dalam menindak pemilik ternak yang membandel. Jalan lintas yang gelap pada malam hari kini menjadi momok menakutkan bagi pengendara karena risiko kecelakaan akibat menabrak sapi sangat tinggi.
“Kalau menertibkan sapi saja tidak sanggup, untuk apa ada Satpol PP? Jangan sampai publik menarik kesimpulan bahwa pemerintah daerah kalah patuh dengan pemilik sapi,” sindir salah satu tokoh masyarakat setempat.
4 Tuntutan Mutlak Warga Indralaya
Merespons krisis ini, warga mendesak Bupati Ogan Ilir untuk segera mengevaluasi total kinerja Kasatpol PP Rosita. Masyarakat menuntut empat poin perubahan mendasar:
Sapu Bersih Total: Bersihkan seluruh hewan ternak liar dari ruang publik dan jalan utama Indralaya tanpa tebang pilih.
Sanksi Pidana & Denda: Terapkan sanksi tegas, sita ternak, dan beri denda maksimal kepada pemilik yang sengaja melepasliarkan hewannya.
Evaluasi Jabatan: Evaluasi total kepemimpinan Kasatpol PP Ogan Ilir yang dinilai gagal memberikan rasa aman.
Hentikan Kerja Seremonial: Stop pola kerja dokumentasi tanpa dampak nyata jangka panjang di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya menghubungi Kasatpol PP Ogan Ilir, Rosita, guna mendapatkan konfirmasi dan hak jawab terkait gelombang kritik keras serta tuntutan pencopotan dirinya dari jajaran masyarakat. Publik kini menunggu, apakah hukum Perda yang akan tegak, atau jalanan Indralaya tetap di bawah kuasa kawanan sapi liar. (BN)












